BeritaNasional

Analogi Sepak Bola Tanpa Gawang, Das’ad Latif dan MAI Bicara Arah Masa Depan Indonesia

×

Analogi Sepak Bola Tanpa Gawang, Das’ad Latif dan MAI Bicara Arah Masa Depan Indonesia

Sebarkan artikel ini

KANAL-X.COM, Jakarta – Pentingnya Indonesia memiliki arah pembangunan yang jelas menjadi salah satu pesan utama dalam Silaturahim Nasional dan Pleno I Presidium Majelis Arah Indonesia (MAI) di Masjid Agung Al-Azhar, Jakarta, Senin (10/8/2026).

Dalam konferensi pers setelah agenda tersebut, Dr. H. Das’ad Latif, Ph.D. dan KH. Fahmi Salim, Lc., M.A. sama-sama menyoroti pentingnya sebuah tujuan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Dr. Das’ad Latif menggunakan analogi sepak bola untuk menjelaskan persoalan tersebut. Menurutnya, permainan sepak bola memiliki tujuan yang jelas karena setiap pemain mengetahui sasaran yang hendak dicapai, yakni gawang lawan.

Tanpa gawang, permainan sepak bola kehilangan orientasi. Para pemain mungkin tetap berlari dan memainkan bola, tetapi tidak mengetahui secara pasti ke mana permainan tersebut harus diarahkan.

Analogi itu menggambarkan pentingnya arah bagi sebuah negara. Pembangunan nasional membutuhkan sasaran bersama agar seluruh kebijakan dan energi bangsa dapat bergerak menuju tujuan yang sama.

KH. Fahmi Salim menyampaikan pandangan senada. Menurutnya, Indonesia membutuhkan “gawang” dalam arti tujuan nasional yang jelas.

“Bayangkan sepak bola itu tanpa gawang. Bolanya akan ke mana? Begitu juga kalau berbangsa, kalau tidak ada gawang, susah mau dibawa ke mana negara kita,” kata KH. Fahmi.

Ia menegaskan, visi negara tidak boleh menjadi visi individu atau kelompok tertentu. Arah Indonesia harus menjadi visi bersama yang berorientasi pada kepentingan rakyat.

Menurut KH. Fahmi, konstitusi telah memberikan sejumlah prinsip dasar yang dapat menjadi pijakan dalam menentukan arah tersebut, seperti mencerdaskan kehidupan bangsa, mengangkat harkat dan martabat bangsa Indonesia serta ikut menjaga ketertiban dunia.

“Negara harus hadir untuk menyejahterakan rakyat. Inilah sumbangsih kita,” ujarnya.

Majelis Arah Indonesia sendiri, kata KH. Fahmi, bukan partai politik dan bukan organisasi kemasyarakatan. MAI merupakan wadah pemikiran yang mempertemukan tokoh dari berbagai latar belakang.

Sembilan anggota presidium memiliki kedudukan sejajar. Dalam mekanisme organisasi, ketua presidium akan berganti secara bergiliran setiap tahun. MAI juga akan memiliki juru bicara serta tim ahli untuk melakukan pengolahan data dan analisis kebijakan.

Keberagaman latar belakang anggota menjadi salah satu karakter utama MAI. Ulama, akademisi, ekonom dan tokoh masyarakat berada dalam satu wadah dengan tujuan memberikan kontribusi pemikiran bagi bangsa.

“Kritik boleh, tetapi tidak lepas dari nilai-nilai,” ujar KH. Fahmi.

Menurutnya, kritik terhadap pemerintah maupun kebijakan negara harus tetap mengedepankan Pancasila dan semangat permusyawaratan.

Pada Pleno I, MAI juga membahas sejumlah isu strategis. Salah satunya mengenai TNI dan Polri yang akan menjadi salah satu bidang kajian dengan pembahasan yang lebih fokus.

KH. Fahmi menilai fokus diperlukan agar pembahasan tidak melebar dan hasil kajian dapat menghasilkan rekomendasi yang lebih tajam.

Dengan forum Silaturahim Nasional dan Pleno I, MAI mulai mengonsolidasikan gagasan para anggotanya untuk memberikan sumbangsih pemikiran terhadap berbagai persoalan nasional.

Pesan yang disampaikan melalui analogi sepak bola tersebut menjadi refleksi bahwa Indonesia membutuhkan tujuan bersama. Tanpa arah yang jelas, berbagai potensi bangsa akan sulit diarahkan menuju sasaran yang sama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *